Ambon – Rekaman video sambutan Wakil Gubernur Maluku, Abdullah Vanath, pada acara pembukaan pertandingan sepak bola persahabatan antara Negeri Luhu dan Pelauw, Kamis (20/11/2025), kembali memicu kontroversi dan banjir kritik dari publik.
Dalam video yang kini beredar luas, Vanath menyinggung kunjungan tiga pendeta yang datang menemui dirinya untuk membahas kegiatan keagamaan yang akan dilaksanakan pada bulan Desember.
Di hadapan masyarakat yang hadir, Vanath menceritakan bahwa ia langsung mengarahkan para pendeta tersebut untuk meminta bantuan dana kepada Gubernur Maluku.
“Kalau mau minta uang, silahkan ke Gubernur. Beliau yang mengatur soal itu,” demikian kira-kira ucapan Vanath yang terekam dalam video tersebut.
Pernyataan yang disampaikan di ruang publik ini kemudian memicu reaksi keras dari berbagai kalangan, khususnya jemaat dan tokoh gereja yang merasa penyampaian tersebut tidak pantas dikemukakan secara terbuka.
Salah satu kritik paling menonjol datang dari akademisi dan tokoh masyarakat, Dr. Nataniel Elake, melalui sebuah unggahan Facebook yang kini mendapat ratusan respons dari warganet.
Dalam unggahan berlatar biru itu, Elake menilai tindakan Vanath sebagai bentuk pelecehan terhadap martabat pemimpin umat.
“Wagub ee soal Pendeta itu jang obral dimuka umum bagitu, katong malu. Dong itu pimpinan umat Kristen. Minta maaf jua,” tulis Elake.
Unggahan tersebut mendapat lebih dari 200 tanda suka dan lebih dari 150 komentar, sebagian besar menekan agar Vanath segera mengoreksi pernyataannya.
Banyak warganet menilai bahwa membahas kunjungan pendeta apalagi dalam konteks permintaan bantuan dana di ruang publik adalah tindakan yang dapat menimbulkan kesalahpahaman serta mencederai hubungan harmonis antarumat beragama di Maluku.
Sejumlah komentar bahkan menyebut bahwa pernyataan itu berpotensi menurunkan wibawa pemimpin gereja di mata masyarakat.
Hingga berita ini diterbitkan, Wakil Gubernur Maluku Abdullah Vanath belum memberikan klarifikasi resmi terkait permintaan maaf yang disuarakan publik.
Sementara itu, diskusi dan kritik di media sosial terus mengalir, menunjukkan bahwa isu ini masih menjadi sorotan utama masyarakat Maluku.












