Panggung HUT Kota Ambon ke-451 Disorot, Kartagama Institut Ingatkan Sensitivitas Simbol Agama

Pemerintahan, Sosial56 Dilihat

AMBON — Bentuk panggung konser dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Ambon ke-451 mendapat sorotan publik. Desain panggung tersebut dinilai secara visual menyerupai simbol salib dan dinilai perlu menjadi perhatian serius, mengingat sensitivitas simbol agama di tengah masyarakat Kota Ambon.

Kemiripan bentuk panggung dengan simbol salib tersebut belum tentu merupakan bagian dari maksud atau pesan keagamaan yang ingin disampaikan panitia maupun Pemerintah Kota Ambon.

Namun, hal tersebut dinilai menunjukkan pentingnya kepekaan dalam menentukan simbol, bentuk maupun desain visual yang ditampilkan dalam kegiatan pemerintah.

“Ambon masih sensitif dengan simbol agama. Bentuk panggung yang terlihat menyerupai simbol salib mungkin saja bukan maksud panitia atau Pemerintah Kota Ambon. Tetapi justru di situlah pentingnya kepekaan,” Hal ini disampaikan Direktur Kartagama Institut Beniqno Al-Kahfi di Ambon 12/9/2026.

Menurutnya, Ambon memiliki sejarah konflik sosial bernuansa agama pada 1999 yang meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat. Pengalaman tersebut seharusnya menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk lebih berhati-hati dalam menampilkan simbol-simbol yang berkaitan dengan identitas agama.

Pada masa konflik, simbol-simbol agama pernah menjadi bagian dari identitas kelompok dan digunakan dalam berbagai narasi yang memperuncing hubungan antarmasyarakat.

Karena itu, bukan hanya simbol salib yang dinilai sensitif. Simbol bulan dan bintang juga memiliki sejarah serta beban emosional tersendiri dalam ingatan masyarakat Ambon.

“Salib sensitif. Bulan dan bintang juga sensitif. Dua-duanya punya sejarah dan beban emosional dalam ingatan masyarakat Ambon,” ujarnya.

Ia menilai, setiap kegiatan pemerintah yang melibatkan ribuan orang harus mempertimbangkan secara matang simbol, bentuk, desain serta pesan visual yang ditampilkan kepada publik.

Apalagi kegiatan tersebut merupakan rangkaian perayaan HUT Kota Ambon ke-451 yang membawa nama dan identitas Kota Ambon. Acara ini bukan kegiatan komunitas atau kelompok agama tertentu, melainkan momentum yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, tanpa membedakan latar belakang agama maupun kelompok.

Oleh sebab itu, setiap simbol maupun bentuk visual yang digunakan dalam kegiatan tersebut dinilai perlu dipastikan tidak menimbulkan kesan keberpihakan terhadap identitas agama tertentu ataupun membuka ruang bagi salah tafsir di tengah masyarakat.

Dalam konteks Kota Ambon yang memiliki sejarah konflik bernuansa agama, sensitivitas semacam ini dinilai penting untuk dijaga. Perayaan HUT Kota Ambon seharusnya menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan, kebersamaan dan persatuan seluruh masyarakat.

“Pak Wali Kota, jangan cuma pikir bagaimana acara terlihat bagus dari panggung. Coba lihat juga bagaimana bentuk itu terlihat dari atas dan bagaimana masyarakat bisa memaknainya,” tegasnya.

Menurutnya, sebuah desain panggung tidak hanya dilihat dari satu sisi. Bentuk yang terlihat biasa dari depan dapat memiliki interpretasi berbeda apabila dilihat dari sudut lain, termasuk dari atas.

Karena itu, pemerintah daerah diharapkan lebih cermat dalam menentukan desain panggung dan berbagai elemen visual dalam kegiatan yang membawa nama Kota Ambon.

“Ambon ini bukan kota yang boleh sembarang bermain dengan simbol agama. Katong su pernah kehilangan terlalu banyak karena perbedaan yang dibakar atas nama agama,” katanya.

Ia mengingatkan agar pengalaman pahit masa lalu tidak kembali menjadi sumber perpecahan di tengah masyarakat.

“HUT Kota Ambon harus menjadi milik katong samua. Ambon Par Samua,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *